Selasa, 03 Juli 2012

Sikap Sosial (Psikologi Sosial)



PENDAHULUAN
            Sewaktu kita berada dalam lingkungan dan situasi sosial, yakni ketika kita terlibat dalam interaksi sosial, selalu saja ada mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk pandangan, mewarnai perasaan, dan akan ikut menetukan kecendrungan prilaku kita terhadap manusia atau sesuatu yang sedang kita hadapi, bahkan terhadap diri sendiri. Pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan kita akan masa lalu, oleh apa yang kita ketahui dan kesan kita terhadap apa yang kita hadapi saat ini.
            Itulah fenomena sikap yang timbulnya tidak saja di tetukan oleh keadaan objek yang sedang kita hadapi tapi juga oleh kaitannnya dengan ;pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh situasi saat ini, dan oleh harapan-harapan kita di masa yang akan datang.
            Pemahaaman konsepsi mengenai sikap tersebut kemudian telah menolong manusia untuk memahami kaitannya dengan berbagai hal dan bidang penelaahan yang lainnya. Manusia kemudian dapat memahami mengapa orang bertingkah laku tertentu dalam situasi tertentu. Kaitan semacam itulah yang meupakan ciri ilmu pengetahuan yang saling berinteraksi satu sama lain dan tidak berdiri sendiri. Memang tidak ada ilmu pengetahuan yang dapat berkembang lepas sama sekali dari ilmu pengetahuan yang lain.

PEMBAHASAN

A.    Pengertian sikap
Menurut Thurstone (1957:2), sikap merupakan suatu tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis. Afeksi positif yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi negatif adalah afeksi yang tidak menyenangkan. Dengan demikian objek dapat menimbulkan berbagai macam afeksi pada seseorang.
Disamping itu menurut Rokeach (1968:112), sikap telah terkandung komponen kognitif dan konatif, yaitu sikap merupakan predisposing untuk merespon, untuk berprilaku. Ini berarti bahwa Menurut Thurstone (1957:2), sikap merupakan suatu tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis. Afeksi positif yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi negatif adalah afeksi yang tidak menyenangkan. Dengan sikap berkaitan dengan prilaku.
Dari batasan tersebut di atas, pengertian sikap telah mengandung komponen kognitif, komponen afektif dan komponen konatif. Gerungan (1966:151) memberikan pengertian sikap : “ pengertian attitude itu dapat kita terjemahkan dengan kata sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap mana di sertai oleh kecendrungan bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek tadi. Jadi attitude itu lebih  tepat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan beraksi terhadap sesuatu hal”.
Dari bermacam-macam pendapat tersebut dapatlah di tarik suatu pendapat bahwa sikap itu merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanyaperasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk merespon atau berprilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya.
Sikap sosial adalah sikap yang di anut oleh orang banyak yang ada pada kelompok orang yang di tujukan pada suatu objek yang menjadi perhatian seluruh anggota kelompok tersebut. Misalnya, bangsa Indonesia mempunyai sikap positif terhadap bendera merah putih. Semua siswa SMA ingin lanjut keperguruan tinggi. Sentara itu sikap individual adalah sikap yang khusus terdapat pada satu-satu orang terhadap objek-objek yang menjadi perhatian orang yang bersangkutan saja. Misalnya, seorang murid sekolah lebih menyukai guru fisikanya dari pada guru sejarahnya. Sikap tidak hanya terdiri atas satu macam saja, melainkan bermacam-macam, sesuai ddengan banyaknya objek yang dapat menjadi perhatian orang yang bersangkutan.

B.     STRUKTUR SIKAP
Berkaitan dengan hal-hal di atas, pada umumnya pendapat ya ng banyak diikuti ialah bahwa sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:
a.       Komponen Kognitif.
Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Contohnya isyu mengenai lokalisasi pelacur sebagai suatu objek sikap. Dalam hal ini, komponen kognitif  sikap terhadap lokalisasi pelacur adalah apa saja yang di percayai seseorang mengenai lokalisasi termaksud.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar