Selasa, 03 Juli 2012

Pembangunan Mental Sumberdaya Manusia (Pembangunan Non-Fisik)



PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Pembicaraan mengenai pembangunan pada umumnya menyinggung masalah mental, entah itu yang `membahas pejabat, ilmuwan, mahasiswa, ataupun buruh. Sepertinya masalah mental telah menjadi akar dari segala permasalahan yang muncul dari pelaksanaan pembangunan. Hal ini tercermin juga pada kelas Pemikiran Politik Indonesia, dengan adanya pendapat-pendapat bahwa masalah krusial yang harus mendapat prioritas dari setiap pelaksana pembangunan adalah masalah mental dari bangsa Indonesia, juga dengan adanya usaha-usaha pengindentifikasi dan pemikiran-pemikiran ideal mengenai mentalitas bangsa Indonesia. Meskipun banyak mahasiswa memunculkan banyak pemikiran ideal mengenai mental bangsa, ada juga mahasiswa yang mengkritik para pemikir ideal tadi, ngomongin mental orang lain tidak  akomodatif dengan pembangunan, tapi dirinya sendiri bermental baru akan mengemukakan pendapat bila namanya disebut dosen.
Masalah-masalah pembangunan yang sering menjadi topik pembicaraan berbagai kalangan yang berkompeten adalah masalah sekitar pembangunan politik, pengentasan kemiskinan, kesenjangan sosial, pemerataan hasil pembangunan, pinjaman luar negeri, kebocoran dana pembangunan, korupsi, dan arah pendidikan. Sebagian dari masalah-masalah di atas sudah ada atau sudah tercium gejalanya sejak orde baru lahir, tetapi sebagian lagi baru mencuat menjadi perhatian masyarakat luas akhir-akhir ini. Berbagai macam perspektif umumnya menyoroti mental dari para pelaku yang dianggap menjadi penyebab utama munculnya masalah. Para pengusaha kecil dan mahasiswa menyoroti mental pejabat yang korupsi, ilmuwan menyoroti mental petani yang dibodohi tengkulak, pejabat menyoroti mental demonstran, dan banyak lagi sehingga masalah mental bangsa ini menjadi sangat rumit dan kompleks.
2.      Betasan Masalah
Berdasarkan permasalahn ini, maka kami membahas pembangunan mental sumber daya manusia yang di arahkan kepada pembangunan yang menyeluruh ata manusia seutuhnya.

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pembangunan Mental SDM
Sebelum kita mebahas lebih lanjut pemahaman mengenai pembangunan mental SDM, kita mrnyadari bahwa pembangunan mental SDM termasuk kepada pembangunan yang berbentuk non fisik, sebagai mana pembahasan makalah pada minggu lalu. Pembangunan mental SDM dapat diartikan sebagai pembangunan yang mengarah pada budi pekerti, pendidikan, keagamaan dan semacamnya, termasuk moral, kebudayaan dan kesenian. Pembangun mental ini di artikan sebagai pembangunan manusia seutuhnya, mengingat tantangan yang  dihadapi oleh bangsa Indonesia ke depan sangatlah berat. Kita tidak hanya dihadapkan pada permasalahan dari dalam tetapi juga dari luar. Fenomena perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat tentu akan berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh itu dapat diwujudkan dalam bentuk perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat memandang segala sesuatu dapat diperoleh dengan instant. Akibatnya masyarakat cenderung untuk bersifat konsumtif dan daya saing kerjanya rendah. Untuk itu diperlukan suatu langkah nyata dalam memecahkan problematika ini.
Pembangunan yang merupakan suatu perencanaan sosial harus benar-benar di konsep sesuai dengan tuntutan perubahan zaman. Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat serta diterapkannya sistem pasar bebas yang mengaburkan batasan suatu negara dalam hal perdagangan akan menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Untuk itu diperlukan suatu konsep pembangunan yang berwawasan manusia. Manusia sebagai subjek dan objek pembangunan hendaknya menyadari betul tantangan ini. Persaingan ke depan tidak hanya berasal dari Sumber Daya Manusia (SDM) dalam negeri tetapi juga SDM ahli dari luar negeri.
             Pembangunan manusia diharapkan dapat mengubah kondisi manusia tidak hanya sebagai objek pembangunan saja tetapi lebih dari itu yaitu sebagai subjek pembangunan yang memiliki kualitas sebagai tenaga yang sanggup:
1.      Mengolah dan mengelola Sumber Daya Alam secara bertanggung jawab.
2.      Menggunakan atau mengaplikasikan suatu teknologi sedemikian rupa sehingga kapasitas teknologi yang bersangkutan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
3.      Belajar meniru, mengikuti, menerapkan dan mengadaptasikan produk atau cara orang lain dan               menyesuaikannya dengan budaya    sendiri.
4.      Membaharui alat atau cara yang sudah ada sehingga nilai tambahnya semakin tinggi.
5.      Mengembangkan dan mengintegrasikan alat atau cara yang sudah ada sehingga membentuk sebuah jaringan yang semakin global.
6.      Memikirkan dan menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada.
7.      Mendidik dan melatih generasi penerus melalui contoh teladan dan sejelas.
8.      Mewarisi dan mewariskan nilai-nilai selektif secara efektif dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan keadaan.
            Pembangunan manusia ada dua bentuk yaitu pembangunan manusia pada fisiknya dan pembangunan manusia secara non fisik atau mental/ ruhani manusia itu sendiri. Pembangunan manusia harus seimbang antara fisik dan rohani, maka dikatakan dengan pembangunan manusia seutuhnya. Manusia disebut utuh jika ia berhubungan serasi dan dinamis ke luar, sementara di dalam, setiap komponen kepribadian, keberadaan, kehidupan dan budayanya berkembang dengan serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan serta berimtaq kepada Allah SWT. Jika pembangunan fisik dan ruhaninya sudah simbang maka akan terbentuk mental sumber daya yang berkualitas dan handal dalam kemampuan pikiran dan ketrampilan, namun juga dilandasi kekuatan moral yang baik. Mengapa hal ini dilakukan karena kemampuan pikiran dan ketrampilan manusia tanpa dilandasi moral yang kuat akan menimbulkan penyimpangan-penyimpangan atau degradasi moral manusia apalagi hal itu didukung dengan perkembangan iptek yang memiliki dampak negatif sangat luas. Namun kita tidak membahas lebih lanjut mengenai pembangunan fisik. Kita akan membahas  Pembangunan mental SDM atau manusia itu sendiri.

B.     Pembangunan mental SDM
            Pembangunan mental manusia yang ditekankan pada segi moral sangatlah penting. Perkembangan iptek dan informasi yang sangat cepat tentu membawa dampak positif dan negatif pada kehidupan manusia. Dampak positif yang terjadi akan dijawab dengan kesiapan SDM secara lahiriah sedangkan dampak negatifnya harus kita tangkal dengan kesiapan SDM secara batiniah. Peningkatan SDM dari segi moral merupakan benteng yang tangguh apalagi kita memiliki budaya luhur yang mencerminkan ketinggian moral bangsa kita. Pembangunan moral manusia tentu tidak akan lepas dari ajaran agama. Agama mengajarkan perbaikan akhlak manusia yang merupakan dasar pembentukan moral. Oleh karena itu dalam rangka peningkatan SDM dari segi moral sudah sepantasnya pendidikan agama mempunyai porsi yang lebih. Namun pada kenyataannya sekarang ini sebagian masyarakat masih berpandangan bahwa pendidikan umum lebih penting dari pada pendidikan agama. Pendidikan agama masih bersifat melengkapi saja.
Hal ini terlihat pada keengganan masyarakat mendorong anak-anaknya untuk belajar agama di TPA, madrasah atau lembaga pendidikan agama yang lain karena lebih difokuskan pada pendidikan yang bersifat umum. Padahal pada lembaga pendidikan yang bersifat umum biasanya porsi keagamaannya sangatlah sedikit. Permasalahan inilah yang harus dipecahkan bersama.
Salah satu solusi yang mungkin telah dilaksanakan sekarang ini untuk meningkatkan kualitas moral manusia  adalah:
1.      Di bangunnya program sekolah yang memadukan aspek agama dan pengetahuan umum, yaitu adanya TKIT, SDIT, SMPIT, dan SMUIT
2.      Pendidikan formal maupun informal. Pendidikan formal melalui sekolah-sekolah merupakan sarana atau media untuk mengasah kemampuan otak dan ketrampilan beretika dan prilaku yang baik. Etika dan moral yang baik juga di ajarkan disnana
3.      Pengajian di tempat ibadah, serta memperbaiki porumpublik dan media masa.
            Peningkatan segi moralitas atau mentalitas dengan sendirinya akan menciptakan suatu budaya kerja yang mencakup semangat atau etos kerja, yang semuanya itu akan berujung pada peningkatan produktivitas kerja.
            Maka dalam praktek keseharian ketika pembangunan fisik dan non fisik seimbang, kesiapan pembangunan fisik itu akan di lakukan dengna sikap mental yang baik dalam membangun sebuah wilayah, sehingga pembangunan fisik tadi dilandasi nilai-nilai moral yang menjujung tinggi kesejahteraan untuk masyarakat luas. Dalam bidang apapun pembangunan dilakukan, jika sikap mentalnya baik dalam memaknai pembangunan kesejahteraan masyarakat akan terwujud. Mengenai sikap mental Koentjaraningrat mengatakan bahwa mentalitas bersumber pada sistem nilai budaya, ia mengungkapkan adanya dua golongan besar mentalitas, yaitu mentalitas masyarakat kota dan mentalitas masyarakat desa. Menurutnya orang desa bekerja keras untuk makan. Orang desa mempunyai orientasi hidup ditentukan oleh kehidupan masa kini. Orang desa hidup harus selaras dengan alam. Dalam hubungannya dengan sesamanya memiliki konsep sama rata sama rasa. Gotong royong mempunyai nilai yang tinggi.
Orang kota (mentalitas priyayi) beranggapan, bahwa manusia bekerja untuk mendapatkan kedudukan, kekuasaan, dan lambang-lambang lahiriah dari kemakmuran. Orientasi waktunya lebih ditentukan oleh masa lampau. Mereka terlalu banyak menggantungkan dirinya pada nasib. Dalam hubungan dengan sesamanya, orang kota amat berorientasi ke arah atasan, dan menunggu restu dari atas.
Gambaran di atas menurut Koentjaraningrat merupakan sikap mental yang sudah lama mengendap dalam pikiran kita, karena bersumber pada sistem nilai budaya kita sejak beberapa generasi yang lalu yang terkondisi sedemikian rupa sehingga bertahan dalam rentang waktu yang panjang. Sedangkan setelah revolusi, mentalitas bangsa Indonesia bersumber pada kehidupan ketidakpastian, tanpa pedoman dan orientasi yang tegas. Hal ini disebabkan karena keberantakkan ekonomi dan kemunduran-kemunduran dalam berbagai sektor kehidupan sosial budaya. Akhirnya mentalitas itu mempunyai kelemahan:
1.      Sifat mentalitas yang meremehkan mutu.
2.      Sifat mentalitas yang suka menerobos.
3.      Sifat mentalitas tidak percaya dengan diri sendiri.
4.      Sifat mentalitas tidak berdisiplin murni.
5.      Sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.
Dengan mentalitas yang demikian, tidak lagi menghormati orang lain dan nilai-nilai budaya, kemungkina realitas yang terjadi seperti yang kita saksikan di telepisi, banyaknya prilaku aparat pemerintah yang amorals, seperti korupsi meraja lela, penindasan kaum lemah, pergeseran budaya lokal dengan asing dan lain-lain. Begitu juga sebaliknya jika hanya bertumpu pada aspek moral saja tanpa diiringi peningkatan kualitas fisik SDM, sudah barang tentu kita akan semakin tertinggal dengan bangsa lain, tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

PENUTUP

1.      Kesimpulan
Pembangunan manusia ada dua bentuknya yaitu pembangunan fisik dan pembangunan non fisik yang berupa metalitas /moral individu. Pembangunan fisik berbentuk infrastruktur sedangkan pembangunan non fisik berbentuk pembinaan. Dalam pembangunan fisik juga di barengi dengan pembangunan moral agar infrastruktur yang di bangun tepat sasaran dan mencapi tujuan yang dinginkan. Jika pembangunan moral manusia tidak di perbaiki maka bersiaplah menerima dampak dari ketidak kukuhan kebijakan yang berwenang terhadap pembangunan ini, kemungkinan akan terjadi tindakan amoral, sikap mental yang merendahkan diri sendiri dan bangsa.
Maka perlu adanya pembangunan yang seimbang antara fisik dan moral, agar tujuan dari pembangunan untuk menjadikan masyarakat adil dan sejahtera terwujut. Tentu hal itu bisa terwujut dengan kesiapan mental pemerintah dalam memperbaiki sistem dan memperjelas nilai budaya. Akhirnya dengan pembangunan manusia dari segi fisik atau lahiriah dan mental atau moral (batiniah) kita tidak perlu ragu dan takut lagi dalam menapaki perkembangan zaman saat ini dan yang akan datang. Kita telah siap dengan SDM yang handal, tidak hanya handal kemampuan dan ketrampilannya saja tetapi juga handal dalam hal moralitas atau mentalitasnya.
2.      Saran
Untuk mendapatkan hasil pembangunan yang mensejahterakan masyarakat, seharusnya pembanguna di bidang fisik/ infrastruktur dan pembangunan non fisik/ mental harus seimbang.





DAFTAR PUSTAKA


Astrid. S. Susanto, 1977, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bandung: Binacipta
S. Munandar, 1981, Pengembangan Sumberdaya Manusia Dalam Rangka Pembangunan Nasional, Jakarta: LPPM  
Koentjaraningrat, 1974, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia
Taliziduhu Ndraha, 1997. Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta
http://members.fortunecity.com/sipico/mental.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar